Kisah Pasukan Katak
Suatu hari seorang perwira menyuruh seorang prajurit untuk mengambil amunisi yang tersimpan didasar laut. Pesan sang perwira tersebut adalah "Ambillah amunisi itu sebanyak-banyaknya. Jangan sampai musuh mengambil sebutirpun".
Sebelum menyelam ke dasar lautan, sang perwira membekali prajurit tersebut dengan peralatan menyelamnya. Lengkap dengan tabung oksigen dan semua persenjataan yang diperlukan. Tidak terlupakan, tempat amunisinya.
Tidak lama kemudian, sang prajurit mulai terjun ke dasar laut dan mulai menyelam. Satu per satu fauna di lautan dia lihat. Banyak ikan yang indah dan beraneka warna. Demikian juga floranya. Tanaman laut yang bergoyang-goyang seolah melambai-lambai mengajak sang prajurit tersebut untuk bermain. Bintang laut yang terdapat didasar lautpun mempesona untuk dilewatkan.
Setelah sekian lama ia berada didasar laut dan menyaksikan keindahan flora dan fauna laut tersebut, tiba-tiba alat pengukur udara yang dibawanya berbunyi. Sang prajurit tersebut tersentak, kaget, dan dengan tergopoh-gopoh ia segera mengumpulkan amunisi yang ada di dasar laut.
Karena oksigen yang sangat terbatas tersebut, maka sang prajurit mengumpulkan amunisi yang mampu ia kumpulkan. Tidak sampai seperempat dari amunisi yang ada, telah dia masukkan ke dalam tempat yang ia bawa. Masih cukup banyak amunisi yang tersisa di dasar laut tersebut. Ia kemudian berpikir, "Nanti aku akan kembali ke dasar laut untuk mengambil sisa amunisi". Kemudian ia mulai berenang ke permukaan.
Setiba dipermukaan ia mendapati sang perwira yang tampak mulai panik. Ia menyuruh prajurit lain untuk membantu sang prajurit yang menyelam tersebut mengangkat amunisi, dan memerintahkan prajurit lain untuk segera menjalankan kapal perangnya menuju ke tempat lain.
Setelah melihat hasil penyelaman, tampaknya sang perwira kecewa. Hasil yang dibawa oleh prajurit tersebut tidak sebanyak yang diharapkan. Kemudian perwira tersebut bertanya apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga amunisi yang berhasil diangkat sangat sedikit. Sang prajurit menceritakan keindahan laut dan bagaimana ia menyentuh ikan yang berwarna-warni. Bagaimana ia menyentuh lembutnya flora di dasar laut. Dengan sangat menyesal, sang perwira memberikan teguran keras kepada prajurit tersebut.
Sang prajurit tidak terima dengan perlakuan sang perwira dan komplain. Ia berkata, "Saya sudah bersusah payah mengangkat amunisi tersebut dari dasar laut. Dan dalam kesatuan ini hanya yang memiliki kemampuan menyelam yang handal. Mengapa saya disalahkan dan ditegur dengan keras?". Sambil tersenyum sang perwira berkata, "karena hanya kamu yang memiliki kemampuan itulah, maka aku memintamu untuk mengambil amunisi yang ada di dasar laut."
Dengan masih mendongkol ia berkata, "Bapak tidak mungkin mendapatkan orang lain dalam kesatuan ini seperti saya. Lagi pula saya dapat menyelam lagi untuk menuntaskan tugas yang diberikan. Mengapa saya tidak diberi kesempatan?"
Kemudian sang perwira berkata kepada sang prajurit tersebut, "Tahukah kamu mengapa kita sekarang berlayar meninggalkan tempat tersebut ?" Dengan mengelengkan kepala prajurit tersebut menyatakan ketidaktahuannya.
Kemudian sang perwira berkata, "karena kita tidak punya waktu lebih lama lagi. Musuh telah merusak kota kita. Saat ini kita harus membantu membebaskan kota kita."
Singkat cerita, peperangan terjadi. Amunisi yang dikumpulkan tersebut telah digunakan. Walaupun mengalami kemenangan, lautan tempat amunisi telah dikuasai oleh musuh. Amunisi yang tertinggal tidak dapat direbut kembali karena tidak ada amunisi lagi untuk menggempur lawan.
Amunisi yang tersisa hanya dapat digunakan untuk mempertahankan diri dan berjaga-jaga saja. Tidak bisa lebih dari itu. Menurut prediksi para analis perang dan informasi intelijen menyatakan jika amunisi yang ada di dasar laut dapat diambil semuanya, maka musuh pasti dapat dihancurkan.
Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa ini antara lain:
Pertama
Sang perwira itu ibarat Sang Khalik. Maka kita diutus ke dunia untuk suatu misi. Tetapi sering kali kita gagal mendapatkan kesempurnaan, karena keindahan dunia yang mempesona. Flora dan fauna menunjukkan keindahan dunia yang sering menggeserkan kita dari visi dan tujuan hidup kita.
Untuk itu sangat perlu kita kembali dan fokus pada tujuan yang seharusnya kita miliki. Untuk apa kita ada. Untuk apa kita diciptakan. Amunisi itu dapat berupa jiwa-jiwa yang seharusnya kita jangkau dan kita selamatkan. Mereka itu sesungguhnya mutiara yang tersimpan.
Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas amunisi atau jiwa-jiwa yang merupakan mutiara dalam peperangan.
Kedua
Sering kali kita berpikir segala kesempatan dapat ditolerir dan diulang. Namun, memanfaatkan segala sesuatu sesuatu dengan tujuan merupakan jawaban yang harus dimiliki setiap anak Tuhan. Tabung oksigen merupakan perbekalan yang melambangkan usia kita. Jika kita dapat memperoleh tabung yang kedua, ketiga, dan seterusnya, maka pemikiran "nanti aku akan menyelam lagi" dapat dilakukan. Namun ketika tabung tersebut tidak dapat kita miliki, maka kita harus kembali ke sang perwira dan mempertanggung jawabkannya.
Ketiga
Dalam peperangan rohani, jiwa-jiwa sangat penting. Mereka dapat digunakan oleh musuh untuk menghancurkan kita. Maka menyelamatkan jiwa-jiwa tersebut menjadi sangat penting. Menjadikan mereka laksana "mutiara" adalah prioritas anak Tuhan.
EPILOG
Hidup kita sering kali seperti prajurit tersebut. Kita menyiapkan segala keperluan kita ala-kadarnya. Pekerjaan kita selesaikan ala-kadarnya. Dan akhirnya, hidup inipun menjadi ala-kadarnya. (by mas'ul)
Sebelum menyelam ke dasar lautan, sang perwira membekali prajurit tersebut dengan peralatan menyelamnya. Lengkap dengan tabung oksigen dan semua persenjataan yang diperlukan. Tidak terlupakan, tempat amunisinya.
Tidak lama kemudian, sang prajurit mulai terjun ke dasar laut dan mulai menyelam. Satu per satu fauna di lautan dia lihat. Banyak ikan yang indah dan beraneka warna. Demikian juga floranya. Tanaman laut yang bergoyang-goyang seolah melambai-lambai mengajak sang prajurit tersebut untuk bermain. Bintang laut yang terdapat didasar lautpun mempesona untuk dilewatkan.
Setelah sekian lama ia berada didasar laut dan menyaksikan keindahan flora dan fauna laut tersebut, tiba-tiba alat pengukur udara yang dibawanya berbunyi. Sang prajurit tersebut tersentak, kaget, dan dengan tergopoh-gopoh ia segera mengumpulkan amunisi yang ada di dasar laut.
Karena oksigen yang sangat terbatas tersebut, maka sang prajurit mengumpulkan amunisi yang mampu ia kumpulkan. Tidak sampai seperempat dari amunisi yang ada, telah dia masukkan ke dalam tempat yang ia bawa. Masih cukup banyak amunisi yang tersisa di dasar laut tersebut. Ia kemudian berpikir, "Nanti aku akan kembali ke dasar laut untuk mengambil sisa amunisi". Kemudian ia mulai berenang ke permukaan.
Setiba dipermukaan ia mendapati sang perwira yang tampak mulai panik. Ia menyuruh prajurit lain untuk membantu sang prajurit yang menyelam tersebut mengangkat amunisi, dan memerintahkan prajurit lain untuk segera menjalankan kapal perangnya menuju ke tempat lain.
Setelah melihat hasil penyelaman, tampaknya sang perwira kecewa. Hasil yang dibawa oleh prajurit tersebut tidak sebanyak yang diharapkan. Kemudian perwira tersebut bertanya apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga amunisi yang berhasil diangkat sangat sedikit. Sang prajurit menceritakan keindahan laut dan bagaimana ia menyentuh ikan yang berwarna-warni. Bagaimana ia menyentuh lembutnya flora di dasar laut. Dengan sangat menyesal, sang perwira memberikan teguran keras kepada prajurit tersebut.
Sang prajurit tidak terima dengan perlakuan sang perwira dan komplain. Ia berkata, "Saya sudah bersusah payah mengangkat amunisi tersebut dari dasar laut. Dan dalam kesatuan ini hanya yang memiliki kemampuan menyelam yang handal. Mengapa saya disalahkan dan ditegur dengan keras?". Sambil tersenyum sang perwira berkata, "karena hanya kamu yang memiliki kemampuan itulah, maka aku memintamu untuk mengambil amunisi yang ada di dasar laut."
Dengan masih mendongkol ia berkata, "Bapak tidak mungkin mendapatkan orang lain dalam kesatuan ini seperti saya. Lagi pula saya dapat menyelam lagi untuk menuntaskan tugas yang diberikan. Mengapa saya tidak diberi kesempatan?"
Kemudian sang perwira berkata kepada sang prajurit tersebut, "Tahukah kamu mengapa kita sekarang berlayar meninggalkan tempat tersebut ?" Dengan mengelengkan kepala prajurit tersebut menyatakan ketidaktahuannya.
Kemudian sang perwira berkata, "karena kita tidak punya waktu lebih lama lagi. Musuh telah merusak kota kita. Saat ini kita harus membantu membebaskan kota kita."
Singkat cerita, peperangan terjadi. Amunisi yang dikumpulkan tersebut telah digunakan. Walaupun mengalami kemenangan, lautan tempat amunisi telah dikuasai oleh musuh. Amunisi yang tertinggal tidak dapat direbut kembali karena tidak ada amunisi lagi untuk menggempur lawan.
Amunisi yang tersisa hanya dapat digunakan untuk mempertahankan diri dan berjaga-jaga saja. Tidak bisa lebih dari itu. Menurut prediksi para analis perang dan informasi intelijen menyatakan jika amunisi yang ada di dasar laut dapat diambil semuanya, maka musuh pasti dapat dihancurkan.
Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa ini antara lain:
Pertama
Sang perwira itu ibarat Sang Khalik. Maka kita diutus ke dunia untuk suatu misi. Tetapi sering kali kita gagal mendapatkan kesempurnaan, karena keindahan dunia yang mempesona. Flora dan fauna menunjukkan keindahan dunia yang sering menggeserkan kita dari visi dan tujuan hidup kita.
Untuk itu sangat perlu kita kembali dan fokus pada tujuan yang seharusnya kita miliki. Untuk apa kita ada. Untuk apa kita diciptakan. Amunisi itu dapat berupa jiwa-jiwa yang seharusnya kita jangkau dan kita selamatkan. Mereka itu sesungguhnya mutiara yang tersimpan.
Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas amunisi atau jiwa-jiwa yang merupakan mutiara dalam peperangan.
Kedua
Sering kali kita berpikir segala kesempatan dapat ditolerir dan diulang. Namun, memanfaatkan segala sesuatu sesuatu dengan tujuan merupakan jawaban yang harus dimiliki setiap anak Tuhan. Tabung oksigen merupakan perbekalan yang melambangkan usia kita. Jika kita dapat memperoleh tabung yang kedua, ketiga, dan seterusnya, maka pemikiran "nanti aku akan menyelam lagi" dapat dilakukan. Namun ketika tabung tersebut tidak dapat kita miliki, maka kita harus kembali ke sang perwira dan mempertanggung jawabkannya.
Ketiga
Dalam peperangan rohani, jiwa-jiwa sangat penting. Mereka dapat digunakan oleh musuh untuk menghancurkan kita. Maka menyelamatkan jiwa-jiwa tersebut menjadi sangat penting. Menjadikan mereka laksana "mutiara" adalah prioritas anak Tuhan.
EPILOG
Hidup kita sering kali seperti prajurit tersebut. Kita menyiapkan segala keperluan kita ala-kadarnya. Pekerjaan kita selesaikan ala-kadarnya. Dan akhirnya, hidup inipun menjadi ala-kadarnya. (by mas'ul)
Komentar
Posting Komentar